Kamis, 25 Agustus 2011

Putri Ibu Kostku

Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku
duduk di tingkat akhir suatu
perguruan tinggi teknik di kota
Bandung. Wajahku ganteng.
Badanku tinggi dan tegap,
mungkin karena aku selalu
berolahraga seminggu tiga kali.
Teman-Âtemanku bilang, kalau
aku bermobil pasti banyak
cewek yang dengan sukahati
menempel padaku. Aku sendiri
sudah punya pacar. Kami
pacaran secara serius. Baik
orang tuaku maupun orang
tuanya sudah setuju kami nanti
menikah. Tempat kos-ku dan
tempat kos-nya hanya berjarak
sekitar 700 m. Aku sendiri sudah
dipegangi kunci kamar kosnya.
Walaupun demikian bukan
berarti aku sudah berpacaran
tanpa batas dengannya. Dalam
masalah pacaran, kami sudah
saling cium-ciuman, gumul-
gumulan, dan remas-remasan.
Namun semua itu kami lakukan
dengan masih berpakaian. Toh
walaupun hanya begitu, kalau
"voltase"-ku sudah amat tinggi,
aku dapat "muntah" juga. Dia
adalah seorang yang menjaga
keperawanan sampai dengan
menikah, karena itu dia tidak
mau berhubungan sex sebelum
menikah. Aku menghargai
prinsipnya tersebut. Karena aku
belum pernah pacaran
sebelumnya, maka sampai saat
itu aku belum pernah merasakan
memek perempuan.
Pacarku seorang anak bungsu.
Kecuali kolokan, dia juga seorang
penakut, sehingga sampai jam
10 malam minta ditemani.
Sehabis mandi sore, aku pergi ke
kosnya. Sampai dia berangkat
tidur. aku belajar atau menulis
tugas akhir dan dia belajar atau
mengerjakan tugas-tugas
kuliahnya di ruang tamu. Kamar
kos-nya sendiri berukuran cukup
besar, yakni 3mX6m. Kamar
sebesar itu disekat dengan
triplex menjadi ruang tamu
dengan ukuran 3mX2.5m dan
ruang tidur dengan ukuran
3mX3.5m. Lobang pintu di
antara kedua ruang itu hanya
ditutup dengan kain korden.
lbu kost-nya mempunyai empat
anak, semua perempuan. Semua
manis-manis sebagaimana
kebanyakan perempuan Sunda.
Anak yang pertama sudah
menikah, anak yang kedua
duduk di kelas 3 SMA, anak
ketiga kelas I SMA, dan anak
bungsu masih di SMP. Menurut
desas-desus yang sampai di
telingaku, menikahnya anak
pertama adalah karena hamil
duluan. Kemudian anak yang
kedua pun sudah mempunyai
prestasi. Nama panggilannya Ika.
Dia dikabarkan sudah pernah
hamil dengan pacarya, namun
digugurkan. Menurut
penilaianku, Ika seorang playgirl.
Walaupun sudah punya pacar,
pacarnya kuliah di suatu
politeknik, namun dia suka
mejeng dan menggoda laki-laki
lain yang kelihatan keren. Kalau
aku datang ke kos pacarku, dia
pun suka mejeng dan bersikap
genit dalam menyapaku.
lka memang mojang Sunda yang
amat aduhai. Usianya akan 18
tahun. Tingginya 160 cm.
Kulitnya berwarna kuning
langsat dan kelihatan licin.
Badannya kenyal dan berisi.
Pinggangnya ramping. Buah
dadanya padat dan besar
membusung. Pinggulnya besar,
kecuali melebar dengan
indahnya juga pantatnya
membusung dengan
montoknya. Untuk gadis seusia
dia, mungkin payudara dan
pinggul yang sudah terbentuk
sedemikian indahnya karena
terbiasa dinaiki dan digumuli
oleh pacarnya. Paha dan
betisnya bagus dan mulus.
Lehernya jenjang. Matanya
bagus. Hidungnya mungil dan
sedikit mancung. Bibirnya
mempunyai garis yang sexy dan
sensual, sehingga kalau memakai
lipstik tidak perlu membuat garis
baru, tinggal mengikuti batas
bibir yang sudah ada.
Rambutnya lebat yang dipotong
bob dengan indahnya.
Sore itu sehabis mandi aku ke
kos pacarku seperti biasanya. Di
teras rumah tampak Ika sedang
mengobrol dengan dua orang
adiknya. Ika mengenakan baju
atas "you can see" dan rok span
yang pendek dan ketat sehingga
lengan, paha dan betisnya yang
mulus itu dipertontonkan
dengan jelasnya.
"Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina?
Wah... sedang nggak ada tuh.
Tadi pergi sama dua temannya.
Katanya mau bikin tugas," sapa
Ika dengan centilnya.
"He... masa?" balasku.
"Iya... Sudah, ngapelin Ika sajalah
Mas Bob," kata Ika dengan
senyum menggoda. Edan! Cewek
Sunda satu ini benar-benar
menggoda hasrat. Kalau mau
mengajak beneran aku tidak
menolak nih, he-he-he...
"Ah, neng Ika macam-macam
saja...," tanggapanku sok
menjaga wibawa. "Kak Dai
belum datang?"
Pacar Ika namanya Daniel,
namun Ika memanggilnya Kak
Dai. Mungkin Dai adalah
panggilan akrab atau panggilan
masa kecil si Daniel. Daniel
berasal dan Bogor. Dia ngapeli
anak yang masih SMA macam
minum obat saja. Dan pulang
kuliah sampai malam hari. Lebih
hebat dan aku, dan selama
ngapel waktu dia habiskan
untuk ngobrol. Atau kalau
setelah waktu isya, dia masuk ke
kamar Ika. Kapan dia punya
kesempatan belajar?
"Wah... dua bulan ini saya
menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi
kerja praktek di Riau. Makanya
carikan teman Mas Bob buat
menemani Ika dong, biar Ika
tidak kesepian... Tapi yang keren
lho," kata Ika dengan suara yang
amat manja. Edan si playgirl
Sunda mi. Dia bukan tipe orang
yang ngomong begitu bukan
sekedar bercanda, namun tipe
orang yang suka nyerempet-
nyerempet hat yang berbahaya.
"Neng Ika ini... Nanti Kak Dainya
ngamuk dong."
"Kak Dai kan tidak akan tahu..."
Aku kembali memaki dalam hati.
Perempuan Sunda macam Ika ini
memang enak ditiduri. Enak
digenjot dan dinikmati
kekenyalan bagian-bagian
tubuhnya.
Aku mengeluarkan kunci dan
membuka pintu kamar kos Dina.
Di atas meja pendek di ruang
tamu ada sehelai memo dari
Dina. Sambil membuka jendela
ruang depan dan ruang tidur,
kubaca isi memo tadi. "Mas
Bobby, gue ngerjain tugas
kelompok bersama Niken dan
Wiwin. Tugasnya banyak, jadi
gue malam ini tidak pulang. Gue
tidur di rumah Wiwin. Di kulkas
ada jeruk, ambil saja. Soen
sayang, Dina"
Aku mengambil bukuku yang
sehari-harinya kutinggal di
tempat kos Di. Sambil menyetel
radio dengan suara perlahan,
aku mulai membaca buku itu.
Biarlah aku belajar di situ sampai
jam sepuluh malam.
Sedang asyik belajar, sekitar jam
setengah sembilan malam pintu
diketok dan luar. Tok-tok-tok...
Kusingkapkan korden jendela
ruang tamu yang telah kututup
pada jam delapan malam tadi,
sesuai dengan kebiasaan
pacarku. Sepertinya Ika yang
berdiri di depan pintu.
"Mbak Di... Mbak Dina...,"
terdengar suara Ika memanggil-
manggil dan luar. Aku membuka
pintu.
"Mbak Dina sudah pulang?"
tanya Ika.
"Belum. Hari ini Dina tidak
pulang. Tidur di rumah
temannya karena banyak tugas.
Ada apa?"
"Mau pinjam kalkulator, mas Bob.
Sebentar saja. Buat bikin pe-er."
"Ng... bolehlah. Pakai kalkulatorku
saja, asal cepat kembali."
"Beres deh mas Bob. Ika
berjanji," kata Ika dengan genit.
Bibirnya tersenyum manis, dan
pandang matanya menggoda
menggemaskan.
Kuberikan kalkulatorku pada Ika.
Ketika berbalik, kutatap tajam-
tajam tubuhnya yang aduhai.
Pinggulnya yang melebar dan
montok itu menggial ke kiri-
kanan, seolah menantang diriku
untuk meremasÂ-remasnya.
Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si
"boy-ku ini responsif sekali kalau
ada cewek cakep yang enak
digenjot.
Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak
dapat berkonsentrasi. Namun
kemudian kuusir pikiran yang
tidak-tidak itu. Kuteruskan
kembali membaca textbook
yang menunjang penulisan
tugas sarjana itu.
Tok-tok-tok! Baru sekitar
limabelas menit pintu kembali
diketok.
"Mas Bob... Mas Bob...," terdengar
Ika memanggil lirih.
Pintu kubuka. Mendadak
kontholku mengeras lagi. Di
depan pintu berdiri Ika dengan
senyum genitnya. Bajunya
bukan atasan "you can see"
yang dipakai sebelumnya. Dia
menggunakan baju yang hanya
setinggi separuh dada dengan
ikatan tali ke pundaknya. Baju
tersebut berwarna kuning muda
dan berbahan mengkilat.
Dadanya tampak membusung
dengan gagahnya, yang
ujungnya menonjol dengan
tajam dan batik bajunya.
Sepertinya dia tidak memakai
BH. Juga, bau harum sekarang
terpancar dan tubuhnya. Tadi,
bau parfum harum semacam ini
tidak tercium sama sekali, berarti
datang yang kali ini si Ika
menyempatkan diri memakai
parfum. Kali ini bibirnya pun
dipolesi lipstik pink.
"Ini kalkulatornya, Mas Bob,"
kata Ika manja, membuyarkan
keterpanaanku.
"Sudah selesai. Neng Ika?"
tanyaku basa-basi.
"Sudah Mas Bob, namun boleh
Ika minta diajari Matematika?"
"0, boleh saja kalau sekiranya
bisa."
Tanpa kupersilakan Ika
menyelonong masuk dan
membuka buku matematika di
atas meja tamu yang rendah.
Ruang tamu kamar kos pacarku
itu tanpa kursi. Hanya digelari
karpet tebal dan sebuah meja
pendek dengan di salah satu
sisinya terpasang rak buku. Aku
pun duduk di hadapannya,
sementara pintu masuk tertutup
dengan sendirinya dengan
perlahan. Memang pintu kamar
kos pacarku kalau mau disengaja
terbuka harus diganjal potongan
kayu kecil.
"Ini mas Bob, Ika ada soal
tentang bunga majemuk yang
tidak tahu cara
penyelesaiannya." Ika mencari-
cari halaman buku yang akan
ditanyakannya.
Menunggu halaman itu
ditemukan, mataku mencari
kesempatan melihat ke dadanya.
Amboi! Benar, Ika tidak memakai
bra. Dalam posisi agak
menunduk, kedua gundukan
payudaranya kelihatan sangat
jelas. Sungguh padat, mulus, dan
indah. Kontholku terasa
mengeras dan sedikit
berdenyut-denyut.
Halaman yang dicari ketemu. Ika
dengan centilnya membaca soal
tersebut. Soalnya cukup mudah.
Aku menerangkan sedikit dan
memberitahu rumusnya,
kemudian Ika menghitungnya.
Sambil menunggu Ika
menghitung, mataku mencuri
pandang ke buah dada Ika.
Uhhh... ranum dan segarnya.
"Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur
sudah tidur?" tanyaku sambil
menelan ludah. Kalau bapaknya
tidak aku tanyakan karena dia
bekerja di Cirebon yang
pulangnya setiap akhir pekan.
"Sudah. Mamah sudah tidur jam
setengah delapan tadi.
Kemudian Erna dan Nur
berangkat tidur waktu Ika
bermain-main kalkulator tadi,"
jawab Ika dengan tatapan mata
yang menggoda.
Hasratku mulai naik. Kenapa
tidak kusetubuhi saja si Ika.
Mumpung sepi. Orang-orang di
rumahnya sudah tidur. Kamar
kos sebelah sudah sepi dan
sudah mati lampunya. Berarti
penghuninya juga sudah tidur.
Kalau kupaksa dia meladeni
hasratku, tenaganya tidak akan
berarti dalam melawanku. Tetapi
mengapa dia akan melawanku?
jangan-jangan dia ke sini justru
ingin bersetubuh denganku. Soal
tanya Matematika, itu hanya
sebagai atasan saja. Bukankah
dia menyempatkan ganti baju,
dari atasan you can see ke
atasan yang memamerkan
separuh payudaranya?
Bukankah dia datang lagi
dengan menyempatkan tidak
memakai bra? Bukankah dia
datang lagi dengan
menyempatkan memakai
parfum dan lipstik? Apa lagi
artinya kalau tidak
menyodorkan din?
Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk
di sebelah kananku.
"Mas Bob... ini benar nggak?"
tanya Ika.
Ada kekeliruan di tengah jalan
saat Ika menghitung. Antara
konsentrasi dan menahan nafsu
yang tengah berkecamuk, aku
mengambil pensil dan
menjelaskan kekeliruannya. Tiba-
tiba Ika lebih mendekat ke
arahku, seolah mau
memperhatikan hal yang
kujelaskan dan jarak yang lebih
dekat. Akibatnya... gumpalan
daging yang membusung di
dadanya itu menekan lengan
tangan kananku. Terasa hangat
dan lunak, namun ketika dia
lebih menekanku terasa lebih
kenyal.
Dengan sengaja lenganku
kutekankan ke payudaranya.
"Ih... Mas Bob nakal deh
tangannya," katanya sambil
merengut manja. Dia pura-pura
menjauh.
"Lho, yang salah kan Neng Ika
duluan. Buah dadanya
menyodok-nyodok lenganku,"
jawabku.
lka cemberut. Dia mengambil
buku dan kembali duduk di
hadapanku. Dia terlihat kembali
membetulkan yang kesalahan,
namun menurut perasaanku itu
hanya berpura-pura saja. Aku
merasa semakin ditantang.
Kenapa aku tidak berani?
Memangnya aku impoten? Dia
sudah berani datang ke sini
malam-malam sendirian. Dia
menyempatkan pakai parfum.
Dia sengaja memakai baju atasan
yang memamerkan gundukan
payudara. Dia sengaja tidak
pakai bra. Artinya, dia sudah
mempersilakan diriku untuk
menikmati kemolekan tubuhnya.
Tinggal aku yang jadi
penentunya, mau menyia-siakan
kesempatan yang dia berikan
atau memanfaatkannya. Kalau
aku menyia-siakan berarti aku
band!
Aku pun bangkit. Aku berdiri di
atas lutut dan mendekatinya
dari belakang. Aku pura-pura
mengawasi dia dalam
mengerjakan soal. Padahal
mataku mengawasi tubuhnya
dari belakang. Kulit punggung
dan lengannya benar-benar
mulus, tanpa goresan sedikitpun.
Karena padat tubuhnya, kulit
yang kuning langsat itu tampak
licin mengkilap walaupun
ditumbuhi oleh bulu-bulu
rambut yang halus.
Kemudian aku menempelkan
kontholku yang menegang ke
punggungnya. Ika sedikit
terkejut ketika merasa ada yang
menempel punggungnya.
"Ih... Mas Bob jangan begitu
dong...," kata Ika manja.
"Sudah... udah-udah... Aku
sekedar mengawasi pekerjaan
Neng Ika," jawabku.
lka cemberut. Namun dengan
cemberut begitu, bibir yang
sensual itu malah tampak
menggemaskan. Sungguh sedap
sekali bila dikulum-kulum dan
dilumat-lumat. Ika berpura-pura
meneruskan pekerjaannya. Aku
semakin berani. Kontholku
kutekankan ke punggungnya
yang kenyal. Ika menggelinjang.
Tidak tahan lagi. tubuh Ika
kurengkuh dan kurebahkan di
atas karpet. Bibirnya kulumat-
lumat, sementara kulit
punggungnya kuremas-remas.
Bibir Ika mengadakan
perlawanan, mengimbangi
kuluman-Âkuluman bibirku yang
diselingi dengan permainan
lidahnya. Terlihat bahkan dalam
masalah ciuman Ika yang masih
kelas tiga SMA sudah sangat
mahir. Bahkan mengalahkan
kemahiranku.
Beberapa saat kemudian
ciumanku berpindah ke lehernya
yang jenjang. Bau harum
terpancar dan kulitnya. Sambil
kusedot-sedot kulit lehernya
dengan hidungku, tanganku
berpindah ke buah dadanya.
Buah dada yang tidak dilindungi
bra itu terasa kenyal dalam
remasan tanganku. Kadang-
kadang dan batik kain licin baju
atasannya, putingnya kutekan-
tekan dan kupelintir-pelintir
dengan jari-jari tanganku. Puting
itu terasa mengeras.
"Mas Bob Mas Bob buka baju saja
Mas Bob...," rintih Ika. Tanpa
menunggu persetujuanku, jari-
jari tangannya membuka Ikat
pinggang dan ritsleteng
celanaku. Aku mengimbangi, tall
baju atasannya kulepas dan baju
tersebut kubebaskan dan
tubuhnya. Aku terpana melihat
kemulusan tubuh atasnya tanpa
penutup sehelai kain pun. Buah
dadanya yang padat
membusung dengan indahnya.
Ditimpa sinar lampu neon ruang
tamu, payudaranya kelihatan
amat mulus dan licin. Putingnya
berdiri tegak di ujung gumpalan
payudara. Putingnya berwarna
pink kecoklat-coklatan,
sementara puncak bukit
payudara di sekitarnya
berwarna coklat tua dan sedikit
menggembung dibanding
dengan permukaan kulit
payudaranya.
Celana panjang yang sudah
dibuka oleh Ika kulepas dengan
segera. Menyusul. kemeja dan
kaos singlet kulepas dan
tubuhku. Kini aku cuma tertutup
oleh celana dalamku, sementara
Ika tertutup oleh rok span ketat
yang mempertontonkan bentuk
pinggangnya yang ramping dan
bentuk pinggulnya yang
melebar dengan bagusnya. Ika
pun melepaskan rok spannya itu,
sehingga pinggul yang indah itu
kini hanya terbungkus celana
dalam minim yang tipis dan
berwarna pink. Di daerah bawah
perutnya, celana dalam itu tidak
mampu menyembunyikan
warna hitam dari jembut lebat
Ika yang terbungkus di
dalamnya. Juga, beberapa helai
jembut Ika tampak keluar dan
lobang celana dalamnya.
lka memandangi dadaku yang
bidang. Kemudian dia
memandang ke arah kontholku
yang besar dan panjang, yang
menonjol dari balik celana
dalamku. Pandangan matanya
memancarkan nafsu yang sudah
menggelegak. Perlahan aku
mendekatkan badanku ke
badannya yang sudah terbaring
pasrah. Kupeluk tubuhnya
sambil mengulum kembali
bibirnya yang hangat. Ika pun
mengimbanginya. Dia memeluk
leherku sambil membalas
kuluman di bibirnya.
Payudaranya pun menekan
dadaku. Payudara itu terasa
kenyal dan lembut. Putingnya
yang mengeras terasa benar
menekan dadaku. Aku dan Ika
saling mengulum bibir, saling
menekankan dada, dan saling
meremas kulit punggung
dengan penuh nafsu.
Ciumanku berpindah ke leher Ika.
Leher mulus yang memancarkan
keharuman parfum yang segar
itu kugumuli dengan bibir dan
hidungku. Ika mendongakkan
dagunya agar aku dapat
menciumi segenap pori-pori kulit
lehernya.
"Ahhh... Mas Bob... Ika sudah
menginginkannya dan kemarin...
Gelutilah tubuh Ika... puasin Ika
ya Mas Bob...," bisik Ika terpatah-
patah.
Aku menyambutnya dengan
penuh antusias. Kini wajahku
bergerak ke arah payudaranya.
Payudaranya begitu
menggembung dan padat.
namun berkulit lembut. Bau
keharuman yang segar
terpancar dan pori-porinya.
Agaknya Ika tadi sengaja
memakai parfum di sekujur
payudaranya sebelum datang ke
sini. Aku menghirup kuat-kuat
lembah di antara kedua bukit
payudaranya itu. Kemudian
wajahku kugesek-gesekkan di
kedua bukit payudara itu secara
bergantian, sambil hidungku
terus menghirup keharuman
yang terpancar dan kulit
payudara. Puncak bukit
payudara kanannya pun kulahap
dalam mulutku. Kusedot kuat-
kuat payudara itu sehingga
daging yang masuk ke dalam
mulutku menjadi sebesar-
besarnya. Ika menggelinjang.
"Mas Bob... ngilu... ngilu...," rintih
Ika.
Gelinjang dan rintihan Ika itu
semakin membangkitkan
hasratku. Kuremas bukit
payudara sebelah kirinya
dengan gemasnya, sementara
puting payudara kanannya
kumainkan dengan ujung
lidahku. Puting itu kadang
kugencet dengan tekanan ujung
lidah dengan gigi. Kemudian
secara mendadak kusedot
kembali payudara kanan itu
kuat-kuat. sementara jari
tanganku menekan dan
memelintir puting payudara
kirinya. Ika semakin
menggelinjang-gelinjang seperti
ikan belut yang memburu
makanan sambil mulutnya
mendesah-desah.
"Aduh mas Booob... ssshh...
ssshhh... ngilu mas Booob...
ssshhh... geli... geli...," cuma kata-
kata itu yang berulang-ulang
keluar dan mulutnya yang
merangsang.
Aku tidak puas dengan hanya
menggeluti payudara kanannya.
Kini mulutku berganti
menggeluti payudara kiri.
sementara tanganku meremas-
remas payudara kanannya kuat-
kuat. Kalau payudara kirinya
kusedot kuat-kuat. tanganku
memijit-mijit dan memelintir-
pelintir puting payudara
kanannya. Sedang bila gigi dan
ujung lidahku menekan-nekan
puting payudara kiri, tanganku
meremas sebesar-besarnya
payudara kanannya dengan
sekuat-kuatnya.
"Mas Booob... kamu nakal....
ssshhh... ssshhh... ngilu mas
Booob... geli..." Ika tidak henti-
hentinya menggelinjang dan
mendesah manja.
Setelah puas dengan payudara,
aku meneruskan permainan
lidah ke arah perut Ika yang rata
dan berkulit amat mulus itu.
Mulutku berhenti di daerah
pusarnya. Aku pun
berkonsentrasi mengecupi
bagian pusarnya. Sementara
kedua telapak tanganku
menyusup ke belakang dan
meremas-remas pantatnya yang
melebar dan menggembung
padat. Kedua tanganku menyelip
ke dalam celana yang melindungi
pantatnya itu. PerlahanÂ-lahan
celana dalamnya kupelorotkan
ke bawah. Ika sedikit
mengangkat pantatnya untuk
memberi kemudahan celana
dalamnya lepas. Dan dengan
sekali sentakan kakinya, celana
dalamnya sudah terlempar ke
bawah.
Saat berikutnya, terhamparlah
pemandangan yang luar biasa
merangsangnya. Jembut Ika
sungguh lebat dan subur sekali.
Jembut itu mengitari bibir
memek yang berwarna coklat
tua. Sambil kembali menciumi
kulit perut di sekitar pusarnya,
tanganku mengelus-elus
pahanya yang berkulit licin dan
mulus. Elusanku pun ke arah
dalam dan merangkak naik.
Sampailah jari-jari tanganku di
tepi kiri-kanan bibir luar
memeknya. Tanganku pun
mengelus-elus memeknya
dengan dua jariku bergerak dan
bawah ke atas. Dengan mata
terpejam, Ika berinisiatif
meremas-remas payudaranya
sendiri. Tampak jelas kalau Ika
sangat menikmati permainan ini.
Perlahan kusibak bibir memek
Ika dengan ibu jari dan
telunjukku mengarah ke atas
sampai kelentitnya menongol
keluar. Wajahku bergerak ke
memeknya, sementara tanganku
kembali memegangi
payudaranya. Kujilati kelentit Ika
perlahan-lahan dengan jilatan-
jilatan pendek dan terputus-
putus sambil satu tanganku
mempermainkan puting
payudaranya.
"Au Mas Bob... shhhhh... betul...
betul di situ mas Bob... di situ...
enak mas... shhhh...," Ika
mendesah-desah sambil
matanya merem-melek. Bulu
alisnya yang tebal dan indah
bergerak ke atas-bawah
mengimbangi gerakan merem-
meleknya mata. Keningnya pun
berkerut pertanda dia sedang
mengalami kenikmatan yang
semakin meninggi.
Aku meneruskan permainan
lidah dengan melakukan jilatan-
jilatan panjang dan lubang anus
sampai ke kelentitnya.
Karena gerakan ujung hidungku
pun secara berkala menyentuh
memek Ika. Terasa benar bahkan
dinding vaginanya mulai basah.
Bahkan sebagian cairan
vaginanya mulai mengalir
hingga mencapai lubang
anusnya. Sesekali pinggulnya
bergetar. Di saat bergetar itu
pinggulnya yang padat dan
amat mulus kuremas kuat-kuat
sambil ujung hidungku
kutusukkan ke lobang
memeknya.
"Mas Booob... enak sekali mas
Bob...," Ika mengerang dengan
kerasnya. Aku segera
memfokuskan jilatan-jilatan
lidah serta tusukan-tusukan
ujung hidung di vaginanya.
Semakin lama vagina itu semakin
basah saja. Dua jari tanganku lalu
kumasukkan ke lobang
memeknya. Setelah masuk
hampir semuanya, jari
kubengkokkan ke arah atas
dengan tekanan yang cukup
terasa agar kena "G-spot"-nya.
Dan berhasil!
"Auwww... mas Bob...!" jerit Ika
sambil menyentakkan pantat ke
atas. sampai-sampai jari tangan
yang sudah terbenam di dalam
memek terlepas. Perut
bawahnya yang ditumbuhi bulu-
bulu jembut hitam yang lebat itu
pun menghantam ke wajahku.
Bau harum dan bau khas cairan
vaginanya merasuk ke sel-sel
syaraf penciumanku.
Aku segera memasukkan
kembali dua jariku ke dalam
vagina Ika dan melakukan
gerakan yang sama. Kali ini aku
mengimbangi gerakan jariku
dengan permainan lidah di
kelentit Ika. Kelentit itu tampak
semakin menonjol sehingga
gampang bagiku untuk menjilat
dan mengisapnya. Ketika
kelentit itu aku gelitiki dengan
lidah serta kuisap-isap perlahan,
Ika semakin keras merintih-
rintih bagaikan orang yang
sedang mengalami sakit demam.
Sementara pinggulnya yang
amat aduhai itu menggial ke kiri-
kanan dengan sangat
merangsangnya.
"Mas Bob... mas Bob... mas Bob...,"
hanya kata-kata itu yang dapat
diucapkan Ika karena menahan
kenikmatan yang semakin
menjadi-jadi.
Permainan jari-jariku dan lidahku
di memeknya semakin
bertambah ganas. Ika sambil
mengerangÂ-erang dan
menggeliat-geliat meremas apa
saja yang dapat dia raih.
Meremas rambut kepalaku,
meremas bahuku, dan meremas
payudaranya sendiri.
"Mas Bob... Ika sudah tidak tahan
lagi... Masukin konthol saja mas
Bob... Ohhh... sekarang juga mas
Bob...! Sshhh. . . ," erangnya
sambil menahan nafsu yang
sudah menguasai segenap
tubuhnya.
Namun aku tidak perduli.
Kusengaja untuk
mempermainkan Ika terlebih
dahulu. Aku mau membuatnya
orgasme, sementara aku masih
segar bugar. Karena itu lidah dan
wajahku kujauhkan dan
memeknya. Kemudian kocokan
dua jari tanganku di dalam
memeknya semakin kupercepat.
Gerakan jari tanganku yang di
dalam memeknya ke atas-
bawah, sampai terasa ujung
jariku menghentak-hentak
dinding atasnya secara
perlahan-lahan. Sementara ibu
jariku mengusap-usap dan
menghentak-hentak kelentitnya.
Gerakan jari tanganku di
memeknya yang basah itu
sampai menimbulkan suara crrk-
crrrk-crrrk-crrk crrrk... Sementara
dan mulut Ika keluar pekikan-
pekikan kecil yang terputus-
putus:
"Ah-ah-ah-ah-ah..."
Sementara aku semakin
memperdahsyat kocokan jari-
jariku di memeknya, sambil
memandangi wajahnya. Mata Ika
merem-melek, sementara
keningnya berkerut-kerut.
Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek!
Crok! Crok! Suara yang keluar
dan kocokan jariku di memeknya
semakin terdengar keras. Aku
mempertahankan kocokan
tersebut. Dua menit sudah si Ika
mampu bertahan sambil
mengeluarkan jeritan-jeritan
yang membangkitkan nafsu.
Payudaranya tampak semakin
kencang dan licin, sedang
putingnya tampak berdiri
dengan tegangnya.
Sampai akhirnya tubuh Ika
mengejang hebat. Pantatnya
terangkat tinggi-tinggi. Matanya
membeliak-Âbeliak. Dan bibirnya
yang sensual itu keluar jeritan
hebat, "Mas Booo00oob ...!" Dua
jariku yang tertanam di dalam
vagina Ika terasa dijepit oleh
dindingnya dengan kuatnya.
Seiring dengan keluar masuknya
jariku dalam vaginanya, dan
sela-sela celah antara tanganku
dengan bibir memeknya
terpancarlah semprotan cairan
vaginanya dengan kuatnya.
Prut! Prut! Pruttt! Semprotan
cairan tersebut sampai mencapai
pergelangan tanganku.
Beberapa detik kemudian Ika
terbaring lemas di atas karpet.
Matanya memejam rapat.
Tampaknya dia baru saja
mengalami orgasme yang begitu
hebat. Kocokan jari tanganku di
vaginanya pun kuhentikan.
Kubiarkan jari tertanam dalam
vaginanya sampai jepitan
dinding vaginanya terasa lemah.
Setelah lemah. jari tangan
kucabut dan memeknya. Cairan
vagina yang terkumpul di
telapak tanganku pun
kubersihkan dengan kertas
tissue.
Ketegangan kontholku belum
juga mau berkurang. Apalagi
tubuh telanjang Ika yang
terbaring diam di hadapanku itu
benar-benar aduhai. seolah
menantang diriku untuk
membuktikan kejantananku
pada tubuh mulusnya. Aku pun
mulai menindih kembali tubuh
Ika, sehingga kontholku yang
masih di dalam celana dalam
tergencet oleh perut bawahku
dan perut bawahnya dengan
enaknya. Sementara bibirku
mengulum-kulum kembali bibir
hangat Ika, sambil tanganku
meremas-remas payudara dan
mempermainkan putingnya. Ika
kembali membuka mata dan
mengimbangi serangan bibirku.
Tubuhnya kembali
menggelinjang-gelinjang karena
menahan rasa geli dan ngilu di
payudaranya.
Setelah puas melumat-lumat
bibir. wajahku pun menyusuri
leher Ika yang mulus dan harum
hingga akhirnya mencapai
belahan dadanya. Wajahku
kemudian menggeluti belahan
payudaranya yang berkulit
lembut dan halus, sementara
kedua tanganku meremas-remas
kedua belah payudaranya.
Segala kelembutan dan
keharuman belahan dada itu
kukecupi dengan bibirku. Segala
keharuman yang terpancar dan
belahan payudara itu kuhirup
kuat-kuat dengan hidungku,
seolah tidak rela apabila ada
keharuman yang terlewatkan
sedikitpun.
Kugesek-gesekkan memutar
wajahku di belahan payudara
itu. Kemudian bibirku bergerak
ke atas bukit payudara sebelah
kiri. Kuciumi bukit payudara
yang membusung dengan
gagahnya itu. Dan kumasukkan
puting payudara di atasnya ke
dalam mulutku. Kini aku
menyedot-sedot puting
payudara kiri Ika. Kumainkan
puting di dalam mulutku itu
dengan lidahku. Sedotan kadang
kuperbesar ke puncak bukit
payudara di sekitar puting yang
berwarna coklat.
"Ah... ah... mas Bob... geli... geli ...,"
mulut indah Ika mendesis-desis
sambil menggeliatkan tubuh ke
kiri-kanan. bagaikan desisan ular
kelaparan yang sedang mencari
mangsa.
Aku memperkuat sedotanku.
Sementara tanganku meremas-
remas payudara kanan Ika yang
montok dan kenyal itu. Kadang
remasan kuperkuat dan
kuperkecil menuju puncak
bukitnya, dan kuakhiri dengan
tekanan-tekanan kecil jari
telunjuk dan ibu jariku pada
putingnya.
"Mas Bob... hhh... geli... geli...
enak... enak... ngilu... ngilu..."
Aku semakin gemas. Payudara
aduhai Ika itu kumainkan secara
bergantian, antara sebelah kiri
dan sebelah kanan. Bukit
payudara kadang kusedot
besarnya-besarnya dengan
tenaga isap sekuat-kuatnya,
kadang yang kusedot hanya
putingnya dan kucepit dengan
gigi atas dan lidah. Belahan lain
kadang kuremas dengan daerah
tangkap sebesar-besarnya
dengan remasan sekuat-
kuatnya, kadang hanya kupijit-
pijit dan kupelintir-pelintir kecil
puting yang mencuat gagah di
puncaknya.
"Ah... mas Bob... terus mas Bob...
terus... hzzz... ngilu... ngilu..." Ika
mendesis-desis keenakan.
Hasratnya tampak sudah
kembali tinggi. Matanya kadang
terbeliak-beliak. Geliatan
tubuhnya ke kanan-kini semakin
sening fnekuensinya.
Sampai akhirnya Ika tidak kuat
mehayani senangan-senangan
keduaku. Dia dengan gerakan
eepat memehorotkan celana
dalamku hingga tunun ke paha.
Aku memaklumi maksudnya,
segera kulepas eelana dalamku.
Jan-jari tangan kanan Ika yang
mulus dan lembut kemudian
menangkap kontholku yang
sudah berdiri dengan gagahnya.
Sejenak dia memperlihatkan rasa
terkejut.
"Edan... mas Bob, edan...
Kontholmu besar sekali... Konthol
pacan-pacanku dahulu dan juga
konthol kak Dai tidak sampai
sebesar in Edan... edan...,"
ucapnya terkagum-kagum.
Sambil membiankan mulut,
wajah, dan tanganku terus
memainkan dan menggeluti
kedua belah payudaranya, jan-
jari lentik tangan kanannya
meremasÂremas perlahan
kontholku secara berirama,
seolah berusaha mencari
kehangatan dan kenikmatan di
hiatnya menana kejantananku.
Remasannya itu mempenhebat
vohtase dam rasa nikmat pada
batang kontholku.
"Mas Bob. kita main di atas kasur
saja...," ajak Ika dengan sinar
mata yang sudah dikuasai nafsu
binahi.
Aku pun membopong tubuh
telanjang Ika ke ruang dalam,
dan membaringkannya di atas
tempat tidun pacarku. Ranjang
pacarku ini amat pendek, dasan
kasurnya hanya terangkat
sekitar 6 centimeter dari lantai.
Ketika kubopong. Ika tidak mau
melepaskan tangannya dari
leherku. Bahkan, begitu
tubuhnya menyentuh kasur,
tangannya menanik wajahku
mendekat ke wajahnya. Tak ayal
lagi, bibirnya yang pink
menekan itu melumat bibirku
dengan ganasnya. Aku pun tidak
mau mengalah. Kulumat bibirnya
dengan penuh nafsu yang
menggelora, sementara
tanganku mendekap tubuhnya
dengan kuatnya. Kuhit
punggungnya yang halus mulus
kuremas-remas dengan
gemasnya.
Kemudian aku menindih tubuh
Ika. Kontholku terjepit di antara
pangkal pahanya yang mulus
dan perut bawahku sendiri.
Kehangatan kulit pahanya
mengalir ke batang kontholku
yang tegang dan keras. Bibirku
kemudian melepaskan bibir
sensual Ika. Kecupan bibirku pun
turun. Kukecup dagu Ika yang
bagus. Kukecup leher jenjang Ika
yang memancarkan bau wangi
dan segarnya parfum yang dia
pakai. Kuciumi dan kugeluti leher
indah itu dengan wajahku,
sementara pantatku mulai
bergerak aktif sehingga
kontholku menekan dan
menggesek-gesek paha Ika.
Gesekan di kulit paha yang licin
itu membuat batang kontholku
bagai diplirit-plirit. Kepala
kontholku merasa geli-geli enak
oleh gesekan-gesekan paha Ika.
Puas menggeluti leher indah,
wajahku pun turun ke buah
dada montok Ika. Dengan gemas
dan ganasnya aku
membenamkan wajahku ke
belahan dadanya, sementara
kedua tanganku meraup kedua
belah payudaranya dan
menekannya ke arah wajahku.
Keharuman payudaranya
kuhirup sepuas-puasku. Belum
puas dengan menyungsep ke
belahan dadanya, wajahku kini
menggesek-gesek memutar
sehingga kedua gunung
payudaranya tertekan-tekan
oleh wajahku secara bergantian.
Sungguh sedap sekali rasanya
ketika hidungku menyentuh dan
menghirup dalam-dalam daging
payudara yang besar dan kenyal
itu. Kemudian bibirku meraup
puncak bukit payudara kiri Ika.
Daerah payudara yang kecoklat-
coklatan beserta putingnya
yang pink kecoklat-coklatan itu
pun masuk dalam mulutku.
Kulahap ujung payudara dan
putingnya itu dengan
bernafsunya, tak ubahnya
seperti bayi yang menetek susu
setelah kelaparan selama
seharian. Di dalam mulutku,
puting itu kukulum-kulum dan
kumainkan dengan lidahku.
"Mas Bob... geli... geli ...," kata Ika
kegelian.
Aku tidak perduli. Aku terus
mengulum-kulum puncak bukit
payudara Ika. Putingnya terasa
di lidahku menjadi keras.
Kemudian aku kembali melahap
puncak bukit payudara itu
sebesar-besarnya. Apa yang
masuk dalam mulutku kusedot
sekuat-kuatnya. Sementara
payudara sebelah kanannya
kuremas sekuat-kuatnya
dengan tanganku. Hal tersebut
kulakukan secara bergantian
antara payudara kiri dan
payudara kanan Ika. Sementara
kontholku semakin menekan dan
menggesek-gesek dengan
beriramanya di kulit pahanya.
Ika semakin menggelinjang-
gelinjang dengan hebatnya.
"Mas Bob... mas Bob... ngilu...
ngilu... hihhh... nakal sekali
tangan dan mulutmu... Auw!
Sssh... ngilu... ngilu...," rintih Ika.
Rintihannya itu justru semakin
mengipasi api nafsuku. Api
nafsuku semakin berkobar-
kobar. Semakin ganas aku
mengisap-isap dan meremas-
remas payudara montoknya.
Sementara kontholku
berdenyut-denyut keenakan
merasakan hangat dan licinnya
paha Ika.
Akhirnya aku tidak sabar lagi.
Kulepaskan payudara montok
Ika dari gelutan mulut dan
tanganku. Bibirku kini berpindah
menciumi dagu dan lehernya,
sementara tanganku
membimbing kontholku untuk
mencari liang memeknya.
Kuputar-putarkan dahulu kepala
kontholku di kelebatan jembut di
sekitar bibir memek Ika. Bulu-
bulu jembut itu bagaikan
menggelitiki kepala kontholku.
Kepala kontholku pun kegelian.
Geli tetapi enak.
"Mas Bob... masukkan seluruhnya
mas Bob... masukkan
seluruhnya... Mas Bob belum
pernah merasakan memek Mbak
Dina kan? Mbak Dina orang
kuno... tidak mau merasakan
konthol sebelum nikah. Padahal
itu surga dunia... bagai
terhempas langit ke langit
ketujuh. mas Bob..."
Jan-jari tangan Ika yang lentik
meraih batang kontholku yang
sudah amat tegang. Pahanya
yang mulus itu dia buka agak
lebar.
"Edan... edan... kontholmu besar
dan keras sekali, mas Bob...,"
katanya sambil mengarahkan
kepala kontholku ke lobang
memeknya.
Sesaat kemudian kepala
kontholku menyentuh bibir
memeknya yang sudah basah.
Kemudian dengan perlahan-
lahan dan sambil kugetarkan,
konthol kutekankan masuk ke
liang memek. Kini seluruh kepala
kontholku pun terbenam di
dalam memek. Daging hangat
berlendir kini terasa mengulum
kepala kontholku dengan
enaknya.
Aku menghentikan gerak masuk
kontholku.
"Mas Bob... teruskan masuk,
Bob... Sssh... enak... jangan
berhenti sampai situ saja...," Ika
protes atas tindakanku. Namun
aku tidak perduli. Kubiarkan
kontholku hanya masuk ke
lobang memeknya hanya
sebatas kepalanya saja, namun
kontholku kugetarkan dengan
amplituda kecil. Sementara bibir
dan hidungku dengan ganasnya
menggeluti lehernya yang
jenjang, lengan tangannya yang
harum dan mulus, dari ketiaknya
yang bersih dari bulu ketiak. Ika
menggelinjang-gelinjang dengan
tidak karuan.
"Sssh... sssh... enak... enak... geli...
geli, mas Bob. Geli... Terus masuk,
mas Bob..."
Bibirku mengulum kulit lengan
tangannya dengan kuat-kuat.
Sementara gerakan
kukonsentrasikan pada
pinggulku. Dan... satu... dua...
tiga! Kontholku kutusukkan
sedalam-dalamnya ke dalam
memek Ika dengan sangat cepat
dan kuatnya. Plak! Pangkal
pahaku beradu dengan pangkal
pahanya yang mulus yang
sedang dalam posisi agak
membuka dengan kerasnya.
Sementara kulit batang
kontholku bagaikan diplirit oleh
bibir dan daging lobang
memeknya yang sudah basah
dengan kuatnya sampai
menimbulkan bunyi: srrrt!
"Auwww!" pekik Ika.
Aku diam sesaat, membiarkan
kontholku tertanam seluruhnya
di dalam memek Ika tanpa
bergerak sedikit pun.
"Sakit mas Bob... Nakal sekali
kamu... nakal sekali kamu...." kata
Ika sambil tangannya meremas
punggungku dengan kerasnya.
Aku pun mulai menggerakkan
kontholku keluar-masuk memek
Ika. Aku tidak tahu, apakah
kontholku yang berukuran
panjang dan besar ataukah
lubang memek Ika yang
berukuran kecil. Yang saya tahu,
seluruh bagian kontholku yang
masuk memeknya serasa dipijit-
pijit dinding lobang memeknya
dengan agak kuatnya. Pijitan
dinding memek itu memberi rasa
hangat dan nikmat pada batang
kontholku.
"Bagaimana Ika, sakit?" tanyaku
"Sssh... enak sekali... enak sekali...
Barangmu besar dan panjang
sekali... sampai-sampai
menyumpal penuh seluruh
penjuru lobang memekku...,"
jawab Ika.
Aku terus memompa memek Ika
dengan kontholku perlahan-
lahan. Payudara kenyalnya yang
menempel di dadaku ikut
terpilin-pilin oleh dadaku akibat
gerakan memompa tadi. Kedua
putingnya yang sudah
mengeras seakan-akan
mengkilik-kilik dadaku yang
bidang. Kehangatan
payudaranya yang montok itu
mulai terasa mengalir ke dadaku.
Kontholku serasa diremas-remas
dengan berirama oleh otot-otot
memeknya sejalan dengan
genjotanku tersebut. Terasa
hangat dan enak sekali.
Sementara setiap kali menusuk
masuk kepala kontholku
menyentuh suatu daging hangat
di dalam memek Ika. Sentuhan
tersebut serasa menggelitiki
kepala konthol sehingga aku
merasa sedikit kegelian. Geli-geli
nikmat.
Kemudian aku mengambil kedua
kakinya yang kuning langsat
mulus dan mengangkatnya.
Sambil menjaga agar kontholku
tidak tercabut dari lobang
memeknya, aku mengambil
posisi agak jongkok. Betis kanan
Ika kutumpangkan di atas
bahuku, sementara betis kirinya
kudekatkan ke wajahku. Sambil
terus mengocok memeknya
perlahan dengan kontholku,
betis kirinya yang amat indah
itu kuciumi dan kukecupi
dengan gemasnya. Setelah puas
dengan betis kiri, ganti betis
kanannya yang kuciumi dan
kugeluti, sementara betis kirinya
kutumpangkan ke atas bahuku.
Begitu hal tersebut kulakukan
beberapa kali secara bergantian,
sambil mempertahankan rasa
nikmat di kontholku dengan
mempertahankan gerakan maju-
mundur perlahannya di memek
Ika.
Setelah puas dengan cara
tersebut, aku meletakkan kedua
betisnya di bahuku, sementara
kedua telapak tanganku meraup
kedua belah payudaranya. Masih
dengan kocokan konthol
perlahan di memeknya,
tanganku meremas-remas
payudara montok Ika. Kedua
gumpalan daging kenyal itu
kuremas kuat-kuat secara
berirama. Kadang kedua
putingnya kugencet dan
kupelintir-pelintir secara
perlahan. Puting itu semakin
mengeras, dan bukit payudara
itu semakin terasa kenyal di
telapak tanganku. Ika pun
merintih-rintih keenakan.
Matanya merem-melek, dan
alisnya mengimbanginya
dengan sedikit gerakan tarikan
ke atas dan ke bawah.
"Ah... mas Bob, geli... geli... Tobat...
tobat... Ngilu mas Bob, ngilu...
Sssh... sssh... terus mas Bob,
terus.... Edan... edan... kontholmu
membuat memekku merasa enak
sekali... Nanti jangan
disemprotkan di luar memek,
mas Bob. Nyemprot di dalam
saja... aku sedang tidak subur..."
Aku mulai mempercepat gerakan
masuk-keluar kontholku di
memek Ika.
"Ah-ah-ah... benar, mas Bob.
benar... yang cepat... Terus mas
Bob, terus..."
Aku bagaikan diberi spirit oleh
rintihan-rintihan Ika. tenagaku
menjadi berlipat ganda.
Kutingkatkan kecepatan keluar-
masuk kontholku di memek Ika.
Terus dan terus. Seluruh bagian
kontholku serasa diremasÂ-
remas dengan cepatnya oleh
daging-daging hangat di dalam
memek Ika. Mata Ika menjadi
merem-melek dengan cepat dan
indahnya. Begitu juga diriku,
mataku pun merem-melek dan
mendesis-desis karena merasa
keenakan yang luar biasa.
"Sssh... sssh... Ika... enak sekali...
enak sekali memekmu... enak
sekali memekmu..."
"Ya mas Bob, aku juga merasa
enak sekali... terusss... terus mas
Bob, terusss..."
Aku meningkatkan lagi
kecepatan keluar-masuk
kontholku pada memeknya.
Kontholku terasa bagai diremas-
remas dengan tidak karu-karuan.
"Mas Bob... mas Bob... edan mas
Bob, edan... sssh... sssh... Terus...
terus... Saya hampir keluar nih
mas Bob...
sedikit lagi... kita keluar sama-
sama ya Booob...," Ika jadi
mengoceh tanpa kendali.
Aku mengayuh terus. Aku belum
merasa mau keluar. Namun aku
harus membuatnya keluar
duluan. Biar perempuan Sunda
yang molek satu ini tahu bahwa
lelaki Jawa itu perkasa. Biar dia
mengakui kejantanan orang
Jawa yang bernama mas Bobby.
Sementara kontholku merasakan
daging-daging hangat di dalam
memek Ika bagaikan berdenyut
dengan hebatnya.
"Mas Bob... mas Bobby... mas
Bobby...," rintih Ika. Telapak
tangannya memegang kedua
lengan tanganku seolah mencari
pegangan di batang pohon
karena takut jatuh ke bawah.
lbarat pembalap, aku mengayuh
sepeda balapku dengan semakin
cepatnya. Bedanya,
dibandingkan dengan pembalap
aku lebih beruntung. Di dalam
"mengayuh sepeda" aku
merasakan keenakan yang luar
biasa di sekujur kontholku.
Sepedaku pun mempunyai daya
tarik tersendiri karena
mengeluarkan rintihan-rintihan
keenakan yang tiada terkira.
"Mas Bob... ah-ah-ah-ah-ah... Enak
mas Bob, enak... Ah-ah-ah-ah-ah...
Mau keluar mas Bob... mau
keluar... ah-ah-ah-ah-ah...
sekarang ke-ke-ke..."
Tiba-tiba kurasakan kontholku
dijepit oleh dinding memek Ika
dengan sangat kuatnya. Di
dalam memek, kontholku merasa
disemprot oleh cairan yang
keluar dari memek Ika dengan
cukup derasnya. Dan telapak
tangan Ika meremas lengan
tanganku dengan sangat
kuatnya. Mulut sensual Ika pun
berteriak tanpa kendali:
"...keluarrr...!"
Mata Ika membeliak-beliak.
Sekejap tubuh Ika kurasakan
mengejang.
Aku pun menghentikan
genjotanku. Kontholku yang
tegang luar biasa kubiarkan
diam tertanam dalam memek
Ika. Kontholku merasa hangat
luar biasa karena terkena
semprotan cairan memek Ika.
Kulihat mata Ika kemudian
memejam beberapa saat dalam
menikmati puncak orgasmenya.
Setelah sekitar satu menit
berlangsung, remasan
tangannya pada lenganku
perlahan-lahan mengendur.
Kelopak matanya pun membuka,
memandangi wajahku.
Sementara jepitan dinding
memeknya pada kontholku
berangsur-angsur melemah.
walaupun kontholku masih
tegang dan keras. Kedua kaki Ika
lalu kuletakkan kembali di atas
kasur dengan posisi agak
membuka. Aku kembali menindih
tubuh telanjang Ika dengan
mempertahankan agar
kontholku yang tertanam di
dalam memeknya tidak tercabut.
"Mas Bob... kamu luar biasa...
kamu membawaku ke langit ke
tujuh," kata Ika dengan mimik
wajah penuh kepuasan. "Kak Dai
dan pacar-pacarku yang dulu
tidak pernah membuat aku ke
puncak orgasme seperti ml. Sejak
Mbak Dina tinggal di sini, Ika
suka membenarkan mas Bob
saat berhubungan dengan Kak
Dai."
Aku senang mendengar
pengakuan Ika itu. berarti
selama aku tidak bertepuk
sebelah tangan. Aku selalu
membayangkan kemolekan
tubuh Ika dalam masturbasiku,
sementara dia juga
membayangkan kugeluti
dalam onaninya. Bagiku. Dina
bagus dijadikan istri dan ibu
anak-anakku kelak, namun tidak
dapat dipungkiri bahwa tubuh
aduhai Ika enak digeluti dan
digenjot dengan penuh nafsu.
"Mas Bob... kamu seperti yang
kubayangkan. Kamu jantan...
kamu perkasa... dan kamu
berhasil membawaku ke puncak
orgasme. Luar biasa
nikmatnya..."
Aku bangga mendengar ucapan
Ika. Dadaku serasa
mengembang. Dan bagai anak
kecil yang suka pujian, aku ingin
menunjukkan bahwa aku lebih
perkasa dari dugaannya.
Perempuan Sunda ini harus
kewalahan menghadapi
genjotanku. Perempuan Sunda
ini harus mengakui kejantanan
dan keperkasaanku. Kebetulan
aku saat ini baru setengah
perjalanan pendakianku di saat
Ika sudah mencapai
orgasmenya. Kontholku masih
tegang di dalam memeknya.
Kontholku masih besar dan
keras, yang hams
menyemprotkan pelurunya agar
kepalaku tidak pusing.
Aku kembali mendekap tubuh
mulus Ika, yang di bawah sinar
lampu kuning kulit tubuhnya
tampak sangat mulus dan licin.
Kontholku mulai bergerak
keluar-masuk lagi di memek Ika,
namun masih dengan gerakan
perlahan. Dinding memek Ika
secara berargsur-angsur terasa
mulai meremas-remas kontholku.
Terasa hangat dan enak. Namun
sekarang gerakan kontholku
lebih lancar dibandingkan
dengan tadi. Pasti karena
adanya cairan orgasme yang
disemprotkan oleh memek Ika
beberapa saat yang lalu.
"Ahhh... mas Bob... kau langsung
memulainya lagi... Sekarang
giliranmu... semprotkan air
manimu ke dinding-dinding
memekku... Sssh...," Ika mulai
mendesis-desis lagi.
Bibirku mulai memagut bibir
merekah Ika yang amat sensual
itu dan melumat-lumatnya
dengan gemasnya. Sementara
tangan kiriku ikut menyangga
berat badanku, tangan kananku
meremas-remas payudara
montok Ika serta memijit-mijit
putingnya, sesuai dengan mama
gerak maju-mundur kontholku di
memeknya.
"Sssh... sssh... sssh... enak mas
Bob, enak... Terus... teruss...
terusss...," desis bibir Ika di saat
berhasil melepaskannya dari
serbuan bibirku. Desisan itu
bagaikan mengipasi gelora api
birahiku.
Sambil kembali melumat bibir Ika
dengan kuatnya, aku
mempercepat genjotan
kontholku di memeknya.
Pengaruh adanya cairan di
dalam memek Ika, keluar-
masuknya konthol pun diiringi
oleh suara, "srrt-srret srrrt-srrret
srrt-srret..." Mulut Ika di saat
terbebas dari lumatan bibirku
tidak henti-hentinya
mengeluarkan rintih kenikmatan,
"Mas Bob... ah... mas Bob... ah...
mas Bob... hhb... mas Bob... ahh..."
Kontholku semakin tegang.
Kulepaskan tangan kananku dari
payudaranya. Kedua tanganku
kini dari ketiak Ika menyusup ke
bawah dan memeluk punggung
mulusnya. Tangan Ika pun
memeluk punggungku dan
mengusap-usapnya. Aku pun
memulai serangan dahsyatku.
Keluar-masuknya kontholku ke
dalam memek Ika sekarang
berlangsung dengan cepat dan
berirama. Setiap kali masuk,
konthol kuhunjamkan keras-
keras agar menusuk memek Ika
sedalam-dalamnya. Dalam
perjalanannya, batang kontholku
bagai diremas dan dihentakkan
kuat-kuat oleh dinding memek
Ika. Sampai di langkah terdalam,
mata Ika membeliak sambil
bibirnya mengeluarkan seruan
tertahan, "Ak!" Sementara
daging pangkal pahaku bagaikan
menampar daging pangkal
pahanya sampai berbunyi: plak!
Di saat bergerak keluar memek,
konthol kujaga agar kepalanya
yang mengenakan helm tetap
tertanam di lobang memek.
Remasan dinding memek pada
batang kontholku pada gerak
keluar ini sedikit lebih lemah
dibanding dengan gerak
masuknya. Bibir memek yang
mengulum batang kontholku
pun sedikit ikut tertarik keluar,
seolah tidak rela bila sampai
ditinggal keluar oleh batang
kontholku. Pada gerak keluar ini
Bibir Ika mendesah, "Hhh..."
Aku terus menggenjot memek
Ika dengan gerakan cepat dan
menghentak-hentak. Remasan
yang luar biasa kuat, hangat,
dan enak sekali bekerja di
kontholku. Tangan Ika meremas
punggungku kuat-kuat di saat
kontholku kuhunjam masuk
sejauh-jauhnya ke lobang
memeknya. beradunya daging
pangkal paha menimbulkan
suara: Plak! Plak! Plak! Plak!
Pergeseran antara kontholku
dan memek Ika menimbulkan
bunyi srottt-srrrt... srottt-srrrt...
srottt-srrrtt... Kedua nada
tersebut diperdahsyat oleh
pekikan-pekikan kecil yang
merdu yang keluar dari bibir Ika:
"Ak! Uhh... Ak! Hhh... Ak! Hhh..."
Kontholku terasa empot-
empotan luar biasa. Rasa hangat,
geli, dan enak yang tiada tara
membuatku tidak kuasa
menahan pekikan-pekikan kecil:
"lka... Ika... edan... edan... Enak
sekali Ika... Memekmu enak
sekali... Memekmu hangat sekali...
edan... jepitan memekmu enak
sekali..."
"Mas Bob... mas Bob... terus mas
Bob rintih Ika, "enak mas Bob...
enaaak... Ak! Ak! Ak! Hhh... Ak!
Hhh... Ak! Hhh..."
Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti
segenap penjuru kontholku.
Gatal yang enak sekali. Aku pun
mengocokkan kontholku ke
memeknya dengan semakin
cepat dan kerasnya. Setiap
masuk ke dalam, kontholku
berusaha menusuk lebih dalam
lagi dan lebih cepat lagi
dibandingkan langkah masuk
sebelumnya. Rasa gatal dan rasa
enak yang luar biasa di konthol
pun semakin menghebat.
"Ika... aku... aku..." Karena
menahan rasa nikmat dan gatal
yang luar biasa aku tidak
mampu menyelesaikan
ucapanku yang memang sudah
terbata-bata itu.
"Mas Bob... mas Bob... mas Bob!
Ak-ak-ak... Aku mau keluar lagi...
Ak-ak-ak... aku ke-ke-ke..."
Tiba-tiba kontholku mengejang
dan berdenyut dengan amat
dahsyatnya. Aku tidak mampu
lagi menahan rasa gatal yang
sudah mencapai puncaknya.
Namun pada saat itu juga tiba-
tiba dinding memek Ika
mencekik kuat sekali. Dengan
cekikan yang kuat dan enak
sekali itu. aku tidak mampu lagi
menahan jebolnya bendungan
dalam alat kelaminku.
Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala
kontholku terasa disemprot
cairan memek Ika, bersamaan
dengan pekikan Ika,
"...keluarrrr...!" Tubuh Ika
mengejang dengan mata
membeliak-beliak.
"Ika...!" aku melenguh keras-
keras sambil merengkuh tubuh
Ika sekuat-kuatnya, seolah aku
sedang berusaha rnenemukkan
tulang-tulang punggungnya
dalam kegemasan. Wajahku
kubenamkan kuat-kuat di
lehernya yang jenjang. Cairan
spermaku pun tak terbendung
lagi.
Crottt! Crott! Croat! Spermaku
bersemburan dengan derasnya,
menyemprot dinding memek Ika
yang terdalam. Kontholku yang
terbenam semua di dalam
kehangatan memek Ika terasa
berdenyut-denyut.
Beberapa saat lamanya aku dan
Ika terdiam dalam keadaan
berpelukan erat sekali, sampai-
sampai dari alat kemaluan, perut,
hingga ke payudaranya seolah
terpateri erat dengan tubuh
depanku. Aku menghabiskan
sisa-sisa sperma dalam
kontholku. Cret! Cret! Cret!
Kontholku menyemprotkan lagi
air mani yang masih tersisa ke
dalam memek Ika. Kali ini
semprotannya lebih lemah.
Perlahan-lahan tubuh Ika dan
tubuhku pun mengendur
kembali. Aku kemudian
menciumi leher mulus Ika
dengan lembutnya, sementara
tangan Ika mengusap-usap
punggungku dan mengelus-elus
rambut kepalaku. Aku merasa
puas sekali berhasil bermain seks
dengan Ika. Pertama kali aku
bermain seks, bidadari lawan
mainku adalah perempuan
Sunda yang bertubuh kenyal,
berkulit kuning langsat mulus,
berpayudara besar dan padat,
berpinggang ramping, dan
berpinggul besar serta aduhai.
Tidak rugi air maniku diperas
habis-habisan pada pengalaman
pertama ini oleh orang semolek
Ika.
"Mas Bob... terima kasih mas Bob.
Puas sekali saya. indah sekali...
sungguh... enak sekali," kata Ika
lirih.
Aku tidak memberi kata
tanggapan. Sebagai jawaban,
bibirnya yang indah itu kukecup
mesra. Dalam keadaan tetap
telanjang, kami berdekapan erat
di atas tempat tidur pacarku. Dia
meletakkan kepalanya di atas
dadaku yang bidang, sedang
tangannya melingkar ke
badanku. Baru ketika jam
dinding menunjukkan pukul
22:00, aku dan Ika berpakaian
kembali. Ika sudah tahu
kebiasaanku dalam mengapeli
Dina, bahwa pukul 22:00 aku
pulang ke tempat kost-ku
sendiri.
Sebelum keluar kamar, aku
mendekap erat tubuh Ika dan
melumat-lumat bibirnya
beberapa saat.
"Mas Bob... kapan-kapan kita
mengulangi lagi ya mas Bob...
Jangan khawatir, kita tanpa
Ikatan. Ika akan selalu
merahasiakan hal ini kepada
siapapun, termasuk ke Kak Dai
dan Mbak Dina. Ika puas sekali
bercumbu dengan mas Bob,"
begitu kata Ika.
Aku pun mengangguk tanda
setuju. Siapa sih yang tidak mau
diberi kenikmatan secara gratis
dan tanpa ikatan? Akhirnya dia
keluar dari kamar dan kembali
masuk ke rumahnya lewat pintu
samping. Lima menit kemudian
aku baru pulang ke tempat kost-
ku.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar